Selasa, 09 April 2013

Fakta tentang Sampah Makanan (Food Waste)



Sebagian besar kita tidak pernah menyadari, berapa banyak makanan (= sisa makananan) yang kita buang setiap harinya. Menurut data tahun 2010, Amerika Serikat menghasilkan 34 juta ton sampah makanan dan hanya 3 persen yang mampu di daur ulang kembali. Di Inggris, 1/3 makanan yang dibeli oleh setiap penduduknya berakhir di tempat sampah, yang juga berarti setiap keluarga di Inggris setiap tahunnya membuang makanan seharga 400 poundsterling (5,9 juta rupiah).

Untuk tingkat dunia (data tahun 2010), sampah makanan mencapai 1,3 Triliun ton, dan untuk memproduksi makanan yang akhirnya menjadi sampah dan dibuang tersebut, telah dihabiskan 600 kubik kilometer air, 300 juta galon minyak bumi dan penebangan hutan seluas 9,7 juta hektar untuk budidaya tanaman pangan, yang tentunya kesemuanya ikut mubazir. Sungguh suatu pemborosan yang luar biasa, yang tak pernah kita sadari.

Setelah berada di tempat pembuangan sampah, makanan rusak akan menghasilkan gas metan, gas rumah kaca yang memberikan kontribusi besar terhadap perubahan iklim (global warming) saat ini. Selain daripada itu sisa makanan mengandung konten organik dan kelembaban tinggi, ketika membusuk akan menghasilkan bau menyengat yang akan berdampak serius terhadap lingkungan hidup dan kesehatan kita.

Upaya untuk mengurangi jumlah sampah makanan telah banyak dilakukan, diantaranya dengan mendaur-ulangnya menjadi kompos, namun demikian tingkat keberhasilan daur ulang sampah makanan menjadi kompos masih terlihat sangat rendah bila dibandingkan dengan daur ulang sampah an-organik.


Solusi lain dalam rangka mengurangi jumlah sampah makanan, yang kiranya perlu dikedepankan saat ini adalah dengan mensosialisasikan Source Reduction/mengurangi sampah makanan dari sumbernya, khususnya di tingkat rumah tangga. Seperti yang terlihat dalam Food Recovery Hierarchy, mengurangi sampah makanan dari sumbernya/Source Reduction menempati urutan prioritas pertama di Amerika Serikat.

Bahasan lebih jauh mengenai hal ini akan disampaikan dalam artikel selanjutnya.

(Sumber data: Food and Agriculture Organization of the UN, United Nations Convention on Climate Change, United Nations Environtment Programme, US Environmental Protection Agency)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar